hari ini mau posting tentang salah satu suku yang menghuni pulau kalimantan tercinta <3 tepatnya kalimantan timur,yaitu suku dayak benuaq,nahhhh ini dia ceritanya.....:) semoga dengan membaca ini akan bertambah pengetahuanyaa kalau ada salah atau kekurangannya tolong di COMENTS ya,,,,, :) <3 have good time
Suku Dayak Benuaq
Suku Benuaq/Dayak Benuaq
|
Jumlah populasi
|
kurang lebih 116.000
|
Kawasan dengan populasi yang signifikan
|
Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Paser, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kota Samarinda, Kalimantan Timur; Kabupaten Barito Utara, Kabupaten Barito Timur, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah: 116.000
|
Bahasa
|
Benuaq, Indonesia
|
Agama
|
Kristen, Kaharingan
|
Kelompok etnik terdekat
|
Suku Dayak (Rumpun Ot Danum)
|
Dayak Benuaq adalah salah satu anak suku Dayak di Kutai Barat (19,9%) Kalimantan Timur.
Berdasarkan
pendapat beberapa ahli suku ini dipercaya berasal dari Dayak Lawangan sub suku Ot Danum dari Kalimantan Tengah. Lewangan juga
merupakan induk dari suku Tunjung di Kalimantan Timur. Benuaq
sendiri berasal dari kata Benua dalam arti luas berarti suatu
wilayah/daerah teritori tertentu, seperti sebuah negara/negeri. pengertian
secara sempit berarti wilayah/daerah tempat tinggal sebuah kelompok/komunitas.
Menurut cerita pula asal kata Benuaq merupakan istilah/penyebutan oleh orang
Kutai, yang membedakan dengan kelompok Dayak lainnya yang masih hidup nomaden.
Orang Benuaq telah meninggalkan budaya nomaden. Mereka adalah orang-orang yang
tinggal di "Benua", lama-kelamaan menjadi Benuaq. Sedangkan kata Dayak
menurut aksen Bahasa Benuaq berasal dari kata Dayaq atau Dayeuq
yang berarti hulu.
Menurut leluhur
orang Benuaq dan berdasarkan kelompok dialek bahasa dalam Bahasa Benuaq,
diyakini oleh bahwa Orang Benuaq justru tidak berasal dari Kalimantan Tengah,
kecuali dari kelompok Seniang Jatu. Masing-masing mempunyai cerita/sejarah
bahwa leluhur keberadaan mereka di bumi langsung di tempat mereka sekarang.
Tidak pernah bermigrasi seperti pendapat para ahli.
1.
Salah satu versi cerita leluhur mereka adalah Aji Tulur Jejangkat dan Mook Manar Bulatn. Keduanya mempunyai
keturunan Nara Gunaq menjadi orang Benuaq, Sualas Gunaq leluhurnya orang
Tonyoy/Tunjung, Puncan Karnaq leluhurnya orang Kutai.
2.
Orang Benuaq di kawasan hilir Mahakam dan Danau
Jempang dan sekitarnya hingga Bongan dan Sungai Kedang Pahu mengaku mereka
keturunan Seniang Bumuy.
3.
Seniang Jatu dipercaya merupakan leluhur orang Benuaq di kawasan Bentian dan Nyuatan.
Dikisahkan bahwa Seniang Jatu diturunkan di Aput Pererawetn, tepi Sungai
Barito, sebelah hilir Kota Muara Teweh (Olakng Tiwey). Kedatangan suku (mungkin orang Lewangan, Teboyan, Dusun
dan sebagainya) dari Kalimantan Tengah justru berasimilasi dengan Orang Benuaq,
dan ini menyebabkan Orang Benuaq mempunyai banyak dialek.
4.
Sedangkan orang Benuaq di kawasan hulu Kedang Pahu
mengaku mereka keturunan Ningkah Olo.
Menurut legenda Ningkah Olo pertama kali turun ke bumi, menginjakkan kakinya di
daerah yang disebut dalam Bahasa Benuaq, Luntuq Ayepm (Bukit Trenggiling).
Tempat ini diyakini sebagai sebuah bukit yang merupakan ujung dari Jembatan
Mahakam, Samarinda Seberang, Kota Samarinda. Sisa Suku Dayak Benuaq di Kota
Samarinda, akhirnya menyingkir ke utara kota, di kawasan Desa Benangaq,
Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda
Utara. Jadi menurut orang Dayak Benuaq justru merekalah yang pertama menjejakkan kaki di Bumi Samarinda jauh sebelum Kerajaan Kutai resmi berdiri di abad 4 M.
Selanjutnya sebagian keturunannya berangsung-angsur menuju muara Sungai Mahakam bermukim di Jahitan Layar dan Tepian Batu dan sekitarnya. Sebagian yang menuju muara Mahakam,
selanjutnya berlayar/berjalan ke arah selatan (Balikpapan, Paser dan Penajam).
Hal ini mungkin bisa menjelaskan hubungan kekerabatan Dayak Benuaq dan Paser.
Orang Benuaq di Kecamatan Bongan, Kutai Barat, berbahasa Benuaq berdialeq Paser
Bawo. Sebagian lagi menuju pedalaman Sungai Mahakam. Sebagian keturunan yang masih
'tertinggal' di Tenggarong, bermukim di Kecamatan Tenggarong
dan Tenggarong
Seberang.
Tokoh Dayak Benuaq
1.
Korrie Layun Rampan, Sastrawan.
2.
Yurnalis Ngayoh, Wakil
Gubernur Kalimantan Timur 1998-2003,
2003-2006, Gubernur Kalimantan Timur 2006-2008
Penyebaran Geografis Suku Dayak Benuaq
Suku Dayak
Benuaq dapat ditemui di sekitar wilayah Sungai Kedang Pahu di pedalaman Kalimantan Timur dan di daerah danau Jempang. Di Kalimantan Timur, sebagian
besar mendiami Kutai Barat dan merupakan etnis mayoritas (+/-
60 %). Mendiami di Kecamatan Bongan, Jempang, Siluq Ngurai, Muara Pahu, Muara Lawa, Damai, Nyuwatan, sebagian Bentian Besar, Mook Manar
Bulatn serta Barong Tongkok, di Kabupaten Kutai Kartanegara mendiami daerah Jonggon hingga Pondok Labu, Kecamatan Tenggarong, kawasan Jongkang hingga Perjiwa,
Kecamatan Tenggarong
Seberang. Bahkan Bupati Pertama Kutai Barat adalah putra Dayak Benuaq, termasuk Doktor (DR) pertama Dayak
Indonesia dalam studi non-teologi juga dari putra Dayak Benuaq dari Kutai
Barat.
Karena
kedekatan kekerabatan Orang Benuaq dengan Orang Lawangan dan warga di sepanjang Sungai Barito umumnya, maka terdengar selentingan
pada Orang Benuaq, mereka merasa layak jika Kabupaten Kutai Barat bergabung
dengan wacana Provinsi Barito Raya.
Kedekatan orang
Benuaq dengan orang Paser dapat disimak dari cerita rakyat Orang Paser "Putri Petung" dan
"Mook Manor Bulatn" cerita rakyat orang Tonyoy-Benuaq, kedua-duanya
terlahir di dalam "Betukng" atau "Petung" salah satu
spesies/jenis bambu. Selanjutnya dialek orang Benuaq yang berdiam di Kecamatan Bongan sama dengan bahasa orang Paser.
Kekerabatan Orang Benuaq dengan Orang Suku Kutai
Mengenai nama
Kutai, ada pendapat bahwa itu memang bukan menunjuk nama etnis seperti yang
menjadi identitas sekarang. Sebaliknya ada yang berpendapat nama Kutai selain menunjuk pada teritori. Sumpah Palapa Patih Gajah Mada di Majapahit sempat menyebutkan Tunjung Kuta,
ada pula yang mengatakan tulisan yang benar adalah Tunjung Kutai. Dulu dalam
buku sejarah Kutai ditulis Kutei, padahal istilah Kutei justru merupakan
istilah dalam Bahasa Tunjung Benuaq, entah kapan istilah tersebut berubah
menjadi Kutai. Istilah Kutai erat pula dengan istilah Kutaq –
Tunjung Kutaq dalam bahasa Benuaq. Di pedalaman Mahakam terdapat nama pemukiman (kota kecamatan) bernama Kota
Bangun – sekarang didiami etnis Kutai. Menurut catatan Penjajah Belanda dulu
daerah ini diami orang-orang yang memelihara babi, dan mempunyai rumah bertiang
tinggi. Menurut Orang Tunjung Benuaq, istilah Kota Bangun yang benar adalah Kutaq Bangun.
Demikian pula di sekitar Situs Sendawar ada daerah yang namanya Raraq Kutaq (di
Kec. Barong Tongkok, Kota Sendawar ibukota Kutai Barat). Kutaq dalam bahasa Tunjung atau
Benuaq berarti Tuan Rumah, jadi orang Tunjung Benuaq lebih dahulu/awal menyebut
istilah ini dibandingkan versi lain yang menyebut Kutai berasal dari Bahasa
Cina – Kho dan Thai artinya tanah yang luas/besar.
Nama Tenggarong (ibukota Kutai Kartanegara) menurut
bahasa Dayak Orang Benuaq adalah Tengkarukng berasal dari kata tengkaq dan karukng, tengkaq berarti
naik atau menjejakkan kaki ke tempat yang lebih tinggi (seperti meniti anak
tangga), bengkarukng adalah sejenis tanaman akar-akaran. Menurut Orang Benuaq
ketika sekolompok orang Benuaq (mungkin keturunan Ningkah Olo) menyusuri Sungai
Mahakam menuju pedalaman mereka singgah di suatu tempat dipinggir tepian Mahakam, dengan menaiki tebing sungai Mahakam melalui akar
bengkarukng, itulah sebabnya disebut Tengkarukng, lama-kelamaan penyebutan
tersebut berubah menjadi Tenggarong sesuai aksen Melayu.
Perhatikan pula
nama-nama bangsawan Kutai
Martadipura dan Kutai
Kartenagara, menggunakan gelar Aji(Indonesia) bandingkan
dengan nama Aji Tullur Jejangkat pendiri Kerajaan Sendawar (Dayak) – ayah dari Puncan Karna leluhur orang Kutai. Sisa kebudayaan Hindu yang sama-sama masih tersisa sebagai benang merah
adalah Belian
Kenjong, Belian Dewa serta Belian Melas/Pelas. Ketiga belian tersebut syair/manteranya menggunakan bahasa Kutai.
Sistem Kepercayaan
Animisme dan Dinamisme merupakan kepercayaan nenek moyang bangsa Indonesia secara umum. Bagi
orang Dayak khususnya kepercayaan Dayak Benuaq lebih dari Animisme dan Dinamisme,
tetapi meyakini bahwa alam semesta dan semua makhluk hidup mempunyai roh dan
perasaan sama seperti manusia, kecuali soal akal.
Oleh sebab itu
bagi Suku Dayak Benuaq segenap alam semesta termasuk tumbuh-tumbuhan dan hewan
harus diperlakukan sebaik-baiknya dengan penuh kasih sayang. Mereka percaya
perbuatan semena-mena dan tidak terpuji akan dapat menimbulkan malapetaka. Itu
sebabnya selain sikap hormat, mereka berusaha mengelola alam semesta dengan
se-arif dan se-bijaksana mungkin.
Meskipun
sepintas kepercayaan orang Dayak Benuaq seperti polytheisme, tetapi mereka percaya bahwa alam
semesta ini diciptakan dan dikendalikan oleh penguasa tunggal yaitu Letalla.
Letalla mendelegasikan tugas-tugas tertentu sesuai dengan bidang-bidang
tertentu, kepada para Seniang, Nayuq, Mulakng dll. Seniang memberikan pembimbingan,
sedangkan Nayuq akan mengeksekusi akibat pelanggaran terhadap adat dan norma.
Fungsi Patung (Belontakng) dalam Kepercayaan
Dayak Benuaq
Terjadi
kesalahan anggapan termasuk para ahli, bahwa Suku Dayak membuat patung untuk
mereka sembah sebagai symbol sesembahan masyarakat Dayak Benuaq. Oleh karena
kesalahan persepsi ini, seringkali masyarakat Dayak Benuaq dianggap suku
penyembah berhala.
Banyak jenis
patung yang dibuat Suku Dayak Benuaq bukan untuk disembah atau dipuja, tetapi
justru harus diludahi setiap orang yang melewatinya. Ada juga patung yang
dibuat untuk mengelabui roh jahat atau makhluk halus agar tidak menggangu
manusia. Jadi patung lebih daripada wujud/tanda peringatan baik untuk berbuat
baik atau larangan terhadap perbuatan jahat.
Sistem Sosial dan Adat Istiadat
Masyarakat Suku
Dayak Benuaq menganut system matrilineal.
Dalam rangka
pengelolaan alam semesta termasuk hubungan antar mahluk hidup dan kematiannya
serta hubungan dengan kosmos, haruslah sesuai dengan adat istiadat dan tata
karma yang telah diwariskan oleh nenek moyang orang Benuaq. Adat istiadat dan
tata karma diwariskan sama tuanya dengan keberadaan Suku Dayak Benuaq di Bumi.
Orang Suku Dayak Benuaq percaya bahwa Sistem Adat yang ada bukanlah hasil
budaya, tetapi mereka mendapatkan dari petunjuk langsung dari Letalla melalui
para Seniang maupun melalui mimpi.
Orang Dayak
Benuaq, percaya bahwa system adatnya telah ada sebelum negara ini lahir. Itu
sebabnya mereka tidak menerima begitu saja, pendapat yang mengatakan bahwa
dengan lahir Negara dan aturan dapat menghilangkan aturan Adat Istiadat Suku
Dayak Benuaq.
Paling tidak
ada 5 pilar/tiang adat Suku Dayak Benuaq :
1.
Adet
2.
Purus
3.
Timekng
4.
Suket
5.
Terasi
Kelimanya harus
dijalankan / menjadi pegangan dalam melaksanakan adat istiadat di Bumi, jika
tidak akan terjadi ketidak adilan dan kekacauan di masyarakat. Selain itu
penyimpangan baik sengaja maupun tidak sengaja oleh pemangku adat akan mendapat
kutukan dari Nayuk Seniang. Perwujudan dari kutukan ini bias berbentuk kematian
baik mendadak maupun perlahan-lahan, juga bias berbentuk kehidupan selalu
mendapat bencana/malapetaka serta susah mendapatkan rejeki.
Lou (dibaca: lo-uu ; Lamin)
Sebagaimana
masyarakat Dayak umummya, Dayak Benuaq juga mempunyai tradisi rumah panjang.
Dalam masyarakat Dayak Benuaq, tidak semua rumah panjang dapat disebut Lou
(Lamin).
Rumah panjang
dapat disebut lou (lamin) jika mempunyai minimal 8 olakng. Olakng merupakan
bagian/unit lou. Dalam satu olakng terdapat beberapa bilik dan dapur. Jadi
olakng bukan bilik/kamar sebagaimana rumah besar, tetapi olakng merupakan
sambungan bagian dari lou.
Banyaknya
olakng dalam rumah panjang bagi Suku Dayak Benuaq dapat menunjukkan
level/bentuk kepemimpinannya. Itu sebabnya rumah panjang yang besar (lou)
sering disebut kampong besar atau benua. Berdasarkan pengertian ini lou
seringkali berkonotasi dengan kampong atau benua.
Berdasarkan
ukuran dan system kepemimpinan rumah panjang, masyarakat adapt Dayak Benuaq
membedakan rumah panjang sekaligus model pemukiman masyarakat sebagai:
1.
Lou (lamin)
2.
Puncutn Lou / Puncutn Benua
3.
Puncutn Kutaq
4.
Tompokng
5.
Umaq (Huma / Ladang).
Tanaa Adeut (Tanah Ulayat - Tanah Adat)
Hutan dan
segala isinya bagi Suku Dayak Benuaq merupakan benda/barang adat. Itu sebabnya
pengelolaannya harus berdasarkan system adat istiadat. Pada zaman Orde Baru
Suku Dayak Benuaq mengalami zaman yang paling buruk. Hutan sebagai ibu pertiwi
mereka disingkirkan dari orang Benuaq dengan berdalih pada Undang-Undang
terutama pada Undang-Undang Agraria. Sehingga rejim Orba dengan mudah
memisahkan Suku Dayak Benuaq dengan sumber satu-satu penghidupan mereka saat
itu, ditambah lagi dengan disebarnya aparat keamanan dan pertahanan untuk
menjadi tameng perusahaan-perusahaan HPH. Namun menjadi keanehan bahwa Orang
Dayak (Benuaq)lah yang menyebabkan degradasi hutan besar-besaran sebagai dampak
system perladangan bergulir, yang disebut-sebut sebagai perladangan berpindah.
Berdasarkan
ciri/status hutan dapat dibedakan atas :
- Urat Batekng
- Simpukng Munan (Lembo)
- Kebon Dukuh
- Ewei Tuweletn
- Lati Rempuuq
- Lati Lajah
Berdasarkan
suksesi hutan dapat dibedakan atas:
- Bengkar Bengkalutn – Bengkaar Tuhaaq (Hutan Primer)
- Bengkaar Uraaq (Hutan Sekunder Tua; 15-35 tahun)
- Urat Batekng / Batekng (Hutan Sekunder Muda ; 10-15 tahun)
- Balikng Batakng (7-10 tahun)
- Kelewako (2-3 tahun)
- Baber (1-2 tahun)
- Umaaq (huma/ladang) 0 – 1 tahun
Prosesi Adat Kematian
Prosesi adat
kematian Dayak Benuaq dilaksanakan secara berjenjang. Jenjang ini menunjukkan
makin membaiknya kehidupan roh orang yang
meninggal di alam baka. Orang Dayak Benuaq percaya bahwa alam baqa memiliki tingkat kehidupan yang berbeda sesuai dengan tingkat upacara yang
dilaksanakan orang yang masih hidup (keluarga dan kerabat).
Alam baka dalam
bahasa Benuaq disebut secara umum adalah Lumut. Di dalam Lumut terdapat tingkat
(kualitas) kehidupan alam baqa. Kepercayaan Orang Dayak Benuaq tidak mengenal
Nereka. Perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan Orang Dayak Benuaq telah mendapat
ganjaran selama mereka hidup, baik berupa tulah, kutukan, bencana/malapetaka,
penderitaan dll. Itu sebabnya Orang Dayak Benuaq meyakini jika terjadi yang
tidak baik dalam kehidupan berarti telah terjadi pelanggaran adat dan perbuatan yang tidak baik. Untuk menghindari kehidupan yang penuh
bencana, maka orang Dayak Benuaq berusaha menjalankan adat dengan sempurna dan
menjalankan kehidupan dengan sebaik-baiknya.
Secara garis
besar terdapat 3 tingkatan acara Adat kematian :
1.
Parepm Api
2.
Kenyauw
3.
Kwangkai Kewotoq (Kwangkey)
Bahasa Benuaq
Bahasa Benuaq
termasuk dalam Bahasa Lawangan dengan kode bahasa lbx.
Dayak Benuaq
|
Dayak Paser
|
Indonesia
|
aro/aruh
|
aroh
|
itu
|
awat
|
awat
|
bantu/membantu
|
eso
|
aso
|
lagi
|
balo
|
balo
|
rambut
|
bayuq
|
bayu
|
baru
|
bawe
|
bawe
|
cewek/perempuan
|
belay
|
belay
|
rumah
|
bejagur
|
bejagur
|
berkelahi
|
boliq
|
boli
|
beli
|
boyas
|
bias
|
beras
|
bolupm
|
bolum
|
hidup
|
boruk
|
boruk
|
kera/beruk
|
botikng
|
boting
|
kenyang
|
oyat
|
boyat
|
berat
|
butukng
|
buntung
|
perut
|
bura
|
bura
|
putih
|
danum
|
danum
|
air
|
dawetn
|
daon
|
daun
|
dotuq
|
dotu
|
siang
|
lola
|
dola
|
lidah
|
Budaya Benuaq
Kain Ulap
Doyo
Selain
Keseniannya, Suku Dayak Benuaq, terkenal dengan kain khasnya yang disebut Ulap Doyo. Ini merupakan satu-satunya kelompok Dayak yang memiliki seni kerajinan
kain. Dewasa ini kerajinan Ulap Doyo hanya dijumpai di Kecamatan Jempang.
- Lagu:
1.
Bedone
- Seni Suara:
1.
Bedeguuq
2.
Berijooq
3.
Ninga
- Seni Berpantun:
1.
Perentangin
2.
Ngelengot
3.
Ngakey
4.
Ngeloak
- Seni Tari:
1.
Tari Gantar
2.
Tari Ngeleway
3.
Tari
Ngerangkaw
- Beliatn/Penyembuhan Penyakit:
1.
Beliatn Bawo
2.
Beliatn Bawe
3.
Beliatn
Sentiyu
4.
Beliatn
Kenyong
5.
Beliatn
Luangan
6.
Beliatn
Bejamu
- Tolak Bala / Hajatan / Selamatan:
1.
Nuak
2.
Bekelew
3.
Nalitn Tautn
4.
Paper Maper
5.
Besamat
6.
Pakatn Nyahuq
- Perkawinan:
1.
Ngompokng
- Upacara Adat Kematian:
1.
Kwangkey/Kuangkay
2.
Kenyeuw
3.
Parepm
Api/Tooq

0 komentar:
Posting Komentar